Jumat, 21 Oktober 2016

MASALAH MEREKA

Mari kita bersama mendengar testimoni mereka dan bukan hal baru. sudah sering kita dengar bahkan banyak yang pernah mengalaminya. menyakitkan dan penuh kepedihan bukan. ayo kita dengar curahan hati mereka ;






1. Widjaja Gunawan ( pemilik bengkel mobil ) 64 tahun 


Sejak saya muda sampai sekarang, menekuni perbaikan mobil. karena dulu ilmu diperoleh saat ikut paman yang juga buka usaha bengkel. hasil yang diperoleh memang bagus, bisa buat sekolahkan anak anak hingga kuliah dan mereka sudah mandiri. saya senang karena bisa jadi orang tua yang baik dan bisa menjaga mereka sampai mandiri.





Tapi dengan bertambahnya umur, saya sudah tidak bisa fokus jalankan usaha. kalaupun ada orang yang bisa dipercaya, tetap saja harus kontrol. apalagi istri mulai sakit sakitan, harus sering kontrol di singapura. untungnya saya dulu rajin ikut asuransi kesehatan. jadi agak ringan. bengkel akhirnya saya jual. duitnya mau saya depositokan dan imbah hasilnya untuk mencukupi kebutuhan.


Nyatanya bunga deposito tidaklah besar, masih kalah tinggi jika dibandingkan nilai inflasi. mau ikutan teman teman investasi di perkebunan sawit. tapi katanya perlu dikontrol biar gak dibohongi mandor. akhirnya saya menginvestasikan duit saya di properti kerjasama dengan beberapa teman. bangun ruko dan perumahan. enak sih. tapi susahnya kalau udah laku, harus cari lokasi baru lagi. bisa nganggur berbulan-bulan duitnya. Sepertinya jaminan masa depan masih gelap....






2. Hajjah Taty Nasution ( pengusaha waralaba ) 53 tahun 


Selepas suami meninggal, semua tanggung jawab keluarga dipundak saya. usaha kelontongan dan butik warisan suami dikelola dengan hati-hati. lumayan maju karena anak kedua saya memang sarjana komputer dan mencoba memasarkan bisnisnya lewat internet. tapi tahun tahun ini mulai merosot karena semua orang udah melek internet, jadi persaingan ketat.



Dari informasi pelanggan butik yang punya waralaba minimarket, akhirnya saya membeli waralaba dan sekarang sudah berdiri di beberapa titik. lumayan sih. tapi kalau melihat modal yang dibenamkan, hasil per bulan tidak sesuai. bahkan seringkali hanya cukup untuk membayar biaya operasional saja. banyak kelontongan didalam kampung yang dibuat sistem swalayan seperti minimarket kami yang membuat omset menurun.





Anak tertua saya mencoba peruntungan dengan membuka dealer motor mobil bekas di jalan besar tidak jauh dari rumahnya. lumayan sih untungnya. tapi kalau tidak hati-hati, bisa dapat dagangan tidak jelas. baik surat surat maupun kualitas mesinnya. tapi ya cukuplah buat kebutuhan keluarga anak saya yang memang supel dan banyak teman. Tapi apa mereka bisa bertahan di masa depan....








3. Andreas wimela ( karyawan ) 29 tahun 


Join sama teman teman garap proyek kecil kecilan, seperti renovasi rumah dan kantor. modalnya sih gak besar, yang bikin budget bengkak itu dibiaya tenaga kerja yang kadang habiskan 40 % dari anggaran soalnya pengaturan detail yang butuh skill tenaga yang profesional. akhirnya untung yang diperoleh jadi tipis banget, gak sesuai dengan tenaga dan waktu yang tersita.






Pernah juga ikut MLM diajak tetangga dan memang mengasyikkan. ketemu orang orang baru dan jadi bisa mengenal karakter orang yang beragam. banyak sekali penolakan. tapi karena memang ini bisnis people network, jadi jumlah manusia yang bergabung akan mempengaruhi pendapatan yang kita peroleh dan akhirnya semangat saya pada titik terendah dan berujung vacum.



Sisa tabungan yang saya punya, digunakan untuk membuka gerai martabak di pusat kuliner di kotaku. semua tenaga dan sarana promosi dikerahkan seperti minta teman untuk promo di sosmed atau bagi bagi brosur dan kartu diskon. akhirnya banyak konsumen setia yang rutin datang membeli martabak. semoga stabil dan bisa membuka gerai berikutnya. semoga usahaku bisa selalu menang dalam persaingan.....






4. Dwi setiawan ( Pengangguran ) 22 tahun 



Selepas wisuda dan memperoleh gelar Sarjana teknik sipil. angan anganku menjadi seorang ahli bangunan yang bekerja di perusahaan besar dengan tanggung jawab proyek proyek raksasa. wajar saja karena IPK ku 3,7. tapi kenyataannya sulit sekali mencari pekerjaan yang tepat sesuai dengan basic keilmuan yang dimiliki. jikapun ada, hanya perusahaan lokal yang membutuhkanku sebagai formalitas saja punya sarjana teknik sipil.



Bingung dan malu juga kalau ditanya keluarga. akhirnya daripada menganggur, saya ikutan teman teman. bikin distro dan mencoba menawarkan dagangan di beberapa toko online nasional dan juga di sosmed. laku sih. tapi hasilnya cuman cukup buat beli rokok dan nasi padang saja. gak bisa menyisihkan untuk masa depan. apalagi desain menjadi pertimbangan penting pembeli, jadinya setiap saat kita harus hunting desain dan di matching.







Karena mobilitas tinggi, jadi sering tahu ada tanah atau rumah dijual. saya ikutan jadi makelar deh. mobil juga sering dicaloin. kadang berhasil, kadang zong. tapi seringnya disalip ditikungan. tapi gak apalah, bagiku ini sebagai pengalaman hidup  mumpung masih muda. sekarang impianku tidak lagi bekerja diperusahaan. tapi mendirikan perusahaan kontraktor teknik sipil sendiri dengan modal sendiri. makanya sekarang lagi cari modal....






5. Ibu Amirah ( ibu rumah tangga ) 38 tahun 



udah nikah 15 tahun dan anak paling besar di SMP kelas 2 sedangkan adiknya ada yang masih kelas 4 SD dan kelas 1 SD. suami cuman supir truk yang bekerja di kantor logistik. trayeknya luar kota. jadinya jarang pulang. uang hasil kerja suami cukup buat mencukupi keluarga. tapi saya berpikir soal pekerjaan suami yang beresiko tinggi, tapi ada apa-apa dijalan padahal anak-anak masih kecil.






untuk memperoleh tambahan uang dan mengisi kegiatan sehari hari. uang dari arisan saya pakai untuk modal buka warung kecil kecilan di depan rumah. jualan rujak dan karedok. juga jual pop ice dan minuman lainnya. karena banyak anak dilingkungan rumah. tapi karena sama tetangga, sehingga banyak juga yang hutang dan lama dibayarnya. bikin modal menipis. untungnya suami kadang ngasih uang lebih untuk tambahan modal.



Dengan suami sering ngobrol tentang masa depan anak-anak. apakah bisa memperoleh pendidikan sampai bangku kuliah. karena gaji suami gak bakalan cukup. kalau mau pindah kerjaan juga bingung kerjaan yang sesuai dengan keahlian suami yang memang cuma bisa kerja kasar dan menyupir saja. ada tawaran jadi supir pribadi, tapi suami harus tidur di rumah majikannya. boleh pulang hanya sebulan sekali. seandainya ada peluang memperbaiki ekonomiku....






6. Nona saraswati ( ibu rumah tangga ) 33 tahun 


Suami saya seorang tentara dan harus siap ditungaskan dimanapun. sebagai istri pastinya sudah siap lahir batin sejak sebelum menikah. saat ini saya dan anak anak tinggal di rumah dinas. sedangkan suami sudah 3 bulan ditugaskan ke luar kota. apalagi suami saya adalah ketua regu pastinya memiliki tanggung jawab lebih untuk menjaga anggotanya tetap siap dan disiplin.






Gaji suami memang tidak seberapa dan suami saya tidak bisa cari tambahan karena memang dilarang oleh satuan. makanya saya sebagai istri ingin sekali mencari tambahan penghasilan tanpa mengorbankan waktu anak-anak. sambil mengisi waktu, saya menerima jasa menjahit pakaian. karena bantuan teman teman, banyak juga pelanggan yang jauh jauh datang untuk membuatkan baju dengan saya.




Kadang dengan teman teman satu komplek bikin kue pesanan dan juga nasi kotak yang dipesan untuk acara kedinasan mapun pesanan dari masyarakat biasa. mereka memesan berdasarkan brosur yang disebarkan dikantor kantor dan perusahaan swasta yang mengadakan acara. kita juga mencoba menawarkan katering kepada pabrik pabrik yang memiliki banyak karyawan. penginnya sih punya pendapatan yang tidak menyita waktu, kasihan anak anak....





7. Anita ( Pemandu lagu ) 24 tahun 


Awalnya gak ada keinginan untuk memiliki profesi seperti ini, tapi karena kebutuhan yang menyebabkan saya harus bekerja sebagai pemandu lagi di karokean. uang yang dihasilkan memang besar jika dibandingkan dengan teman teman satu kerjaan di kantor leasing ( perkreditan ). malahan mereka sering meminjam uang ke saya kalau udah tanggal tua dan target tidak tercapai.


uang hasil bekerja ditabung dan kalau sudah banyak dibelikan barang koleksi yang harganya mahal. saya lebih suka yang ori karena bisa disimpan dan harganya tambah mahal. seperti tas, sepatu, jam tangan, perhiasan. semua aku simpan di kamar khusus yang dibangun bersebelahan dengan kamarku. saya masih ikut orang tua. saat ini saya sedang menabung untuk membeli tanah dan membangun rumah sendiri.






letih kalau harus merasakan keseharianku. harus tersenyum meskipun perih. harus ceria meskipun dongkol. harus sabar saat tamu bikin marah. semua itu saya lakukan dengan profesional. saya tidak ingin kehilangan pelanggan dan dengan banyak pelanggan, maka cita citaku akan segera terwujud. seandainya ada peluang pekerjaan yang lebih baik buatku....






8. Bagaimana dengan anda ? 

apakah ada kemiripan kisah mereka dengan kisah hidup anda ? atau ada cerita lain yang berbeda dengan mereka. pastikan kita memiliki jaminan kehidupan yang stabil untuk masa depan kita dan anak cucu kita kelak. jangan sampai masa muda kita bekerja keras dan pada saat kita tua kelak, masih harus berjuang keras untuk bisa hidup layak.